Cerpen: The Will of Gaza
Sebuah cerita fiksi tentang kehidupan seorang pejuang muda di daerah konflik, Gaza, Palestina.
Cerita ini tentunya tidak akan mampu mewakilkan bagaimana desah derita yang mereka alami disana, tapi setidaknya dapat menyadarkan kita untuk lebih peduli kepada mereka yang tertindas disana.
semoga anda dapat mengambil manfaat dari kisah yang tersaji dalam cerita ini.
maafkan ketidakberbakatan saya dalam menjadi penulis cerita fiksi.
selamat membaca...
...
Ketakutan, kehampaan, kematian…..
Hal-hal seperti itulah yg dulu sering menggelayuti pikiran kami.
Tapi tidak untuk sekarang, sekarang kami sadar. Betapa berharganya hidup dan tak ada waktu lagi untuk menangisi keadaan, kami harus ikhlas. Ini adalah ujian, sesungguhnya Allah tak akan memberikan ujian yg tidak sanggup ditanggung umat-Nya.
Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.
Gaza, 2011.
Gersang kehampaan menyelimuti suasana Gaza, Palestina. Mentari mengilaukan cahaya keemasannya seakan terus mengobarkan semangat jihad para mujahid. Awan-awan duka yang menggenggam erat segala kesedihan, seakan sirna oleh terangnya cahaya keimanan. Cahaya yang dinanti oleh setiap muslim untuk dapat bersimpuh memberikan segala yang dimilikinya kepada Sang Pencipta.
Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, dimana kami harus berwaspada menghadapi agresi militer yahudi Israel. Banyak orang berpendapat betapa beratnya kesedihan dan kedukaan yg terjadi di tanah Palestina ini. Tapi, aku dapat membantah semua pemikiran mereka. Disini kami berbahagia. Bagaimana tidak, kami diberikan keutamaan untuk dapat membela agama Allah dan jalan kami menuju kematian secara syahid pun tampak dipermudah. Dan aku pun bisa segera mewujudkan cita-citaku, mati secara syahid dengan senyum di wajahku. Sesuatu yg kuidam-idamkan sejak lama.
Bau bubuk mesiu yg terbakar adalah sarapan kami di pagi hari. Suara jerit dan tangis adalah alunan nada yg senantiasa mengiringi perjalanan hidup kami. Sedangkan cahaya yg berasal dari ledakan bom dan misil adalah penerangan yg cukup mumpuni bagi kami untuk mengarungi gelapnya malam. Lalu apalagi yg salah? Kami berperang karena keinginan kami sendiri untuk membela Islam.
Aku bahkan bangga dengan organisasi politik di
tanah kelahiranku yg kini juga beralih fungsi menjadi organisasi militer atas
nama Jihad. Ya, organisasi ini bernama HAMAS, organisasi yg justru banyak
dibenci dunia karena dituding sebagai dalang dari perang di tanah Gaza ini.
Tapi, hal itu sama sekali tidak benar. Hal itu hanya propaganda yg dilakukan
oleh Israel dan sekutunya, Amerika. Nyatanya, HAMAS-lah satu-satunya organisasi
yg senantiasa melindungi kami, melindungi rakyat Palestina.
The
will of Gaza
by:
HamPerS Reikan
Hari ini adalah hari yg menggembirakan bagiku. Ya, bahkan sangat menggembirakan
bagiku. Hari ini adalah hari pertamaku mengemban tugas sebagai pimpinan divisi
tempur darat HAMAS. Hal yg tentunya sangat membanggakan bagiku. Oh iya,
sebelumnya perkenalkan aku Umar Ali, pemuda Gaza yg baru berusia 16 tahun.
Tapi, jangan remehkan aku, di usia yg ke-16 ini aku berhasil naik jabatan
sebagai salah satu bagian penting di organisasi yg kumasuki sejak berumur 8
tahun. Ya, aku mengemban amanah yang besar sebagai pimpinan divisi tempur darat
HAMAS. Organisasi ini merupakan tempatku untuk turut serta melawan kebiadaban
zionis Israel. Di organisasi inilah dulu ayahku memberikan semangat
perjuangannya yg akhirnya merenggut nyawanya 9 tahun yg lalu. Tapi, aku bangga
dengan semangat Abi. Abi ditembak mati saat sedang menunaikan ibadah shalat
fajar. Sebuah tindakan yang sangat biadab oleh zionis Israel. Aku bangga karena
kulihat Abi dapat meninggalkan dunia yg fana ini dengan segurat senyum di
wajahnya.“Siapkan dirimu letnan Umar! Besok kita akan bertempur melawan agresi penuh zionis. Mereka merencanakan untuk menaklukkan Gaza besok!” ujar sang panglima militer, Ismail Hasan. Tentu saja beliau mengetahui hal sepenting tadi karena beliau adalah salah seorang pengamat militer yg cakap dalam menebak sasaran agresi militer zionis Israel.
“Siap, panglima!” jawabku penuh hormat. “lalu apa yg kita rencanakan?” tanyaku.
“Rencana seperti biasa, strategi Jihad 94, strategi khusus andalanmu itu akan menjadi andalan bangsa ini juga. Yg penting kita lakukan sekarang adalah memikirkan bagaimana cara meminimalisir korban perang dari pihak wanita dan anak-anak dari Negara kita ini. Namun jangan khawatir, ku dengar kesatuan khusus Uni Emirat Arab (UEA) yg dipimpin Panglima Ahmad Osama juga akan berkoloni membantu kita.” jelas panglima Ismail.
“Baik! Perintah strategi dipahami.” ujarku semangat.
“Panglima Ismail! Baru saja kami menerima surat perjanjian koalisi dari organisasi Al-Fatah” ujar seorang komandan divisi perang pertama, komandan Yusuf Hanif.
“Apa isi surat itu?” tanyaku antusias.
“Alhamdulillah, panglima militer Al-Fatah, Rizal Syafe’i bersedia bekerja sama dengan kita dalam menghadapi agresi penuh zionis.” jelas komandan Yusuf bersemangat.
“Alhamdulillah” sahutku dan panglima Ismail serentak. Ya, benar ini adalah hal yg sangat kami impikan sejak dulu. Akhirnya organisasi Al-Fatah mau kembali bekerja sama dengan kami.
“Baiklah pertemuan ini kita akhiri dulu. Selamat berjuang, persiapkan diri kalian” perintah Panglima Ismail.
“Siap! Insya Allah kebenaran dan kemenangan akan ada di pihak kita.” ujarku bersamaan dengan komandan Yusuf.
###############
“Umar, kau kah itu?!” teriak seseorang di belakangku.
“Assalamu’alaikum Arif, lama tak bertemu!” ujarku mengenali sosok yg baru saja memanggilku tadi. Dia tak lain tak bukan adalah Arif, sahabat kecilku. Ayahnya sama seperti ayahku, ayahnya juga seorang yg berperan penting di HAMAS, namun beliau telah meninggal beberapa tahun yg lalu.
“Wa’alaikumsalam. Haha kau tambah hebat saja Umar, selamat atas posisi barumu di HAMAS, aku turut bangga akan keadaanmu sekarang. Hehe” ujar Arif.
“Alhamdulillah mereka memberikan amanah padaku di posisi ini. Apa kabarmu teman? Kudengar kau saat ini menjadi anggota batalyon utama pertahanan Gaza.”
“kabarku baik-baik saja kok. Sama sepertimu aku juga hanya diberikan amanah khusus. Do’akan aku berhasil ya! Ya, paling tidak untuk esok hari.”
“tentu!” jawabku
Tiba-tiba saja sebuah rudal milik Israel menghantam sebuah bangunan yg tak jauh dari kami. Kudengar teriakan beberapa warga sipil yg ada disana.
“ALLAHU AKBAR!!!!” teriak mereka.
Kami memang tidak mampu menyelamatkan mereka, tapi kami tahu serangan tadi hanyalah serangan pemanasan bagi Israel. Kudengar suara tawa para zionis biadab itu dari kejauhan.
“Cih, para zionis biadab itu sangat memuakkan!” gerutu Iqbal Azwir, temanku yg baru saja datang ke tempat ledakan tadi.
“Ya, itulah yg harus kita musnahkan secepatnya, para zionis keparat itu!” sahut Musa Al Ghazali, temanku yg lain yg juga datang bersama Iqbal.
“Tentu saja, tapi jangan biarkan dendam menguasai diri kalian sahabatku. Ingat strategi kita harus dapat dijalankan dengan baik pada esok hari. Jangan terlalu terpancing emosi.” sahutku pada dua orang sahabatku ini yg bertugas di divisi tempur yg aku pimpin.
“Baik letnan!” sahut mereka berdua serempak.
“Hey, kalian tak usah memanggilku letnan, panggil saja Umar seperti biasa. Hehehe” ujarku sedikit malu dengan panggilan mereka padaku tadi.
#############
Pagi ini, setelah shalat shubuh aku bersiap untuk
segala keadaan tersulit yg harus kujalani sebagai pimpinan divisi tempur darat
HAMAS. Strategi yg harus kujalankan sudah kupikirkan matang-matang dan aku
harus dapat memikirkan setidaknya 200 strategi cadangan yg lain untuk keadaan
darurat.
“Bismillahirrahmanirrahim” ucapku memulai hari
ini.
Tak lama setelah itu.,..
They came with their tanks and their
planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
Sebuah ledakan bom fosfor menghasilkan cahaya
putih yg membutakan mata sontak mengawali perang di hari ini. Cahaya putih itu
lalu menerangi langit kota Gaza yg kelam. Para penduduk sipil berlari
menyelamatkan diri mereka meski tak tahu apakah mereka akan selamat untuk tetap
hidup ataupun mati. Tentara zionis datang dengan tank dan pesawat tempur
mereka. Ledakan bom yg dijatuhkan oleh pesawat tempur serta meriam yg
dilontarkan tank menambah deru perang di kota ini.
“Segera evakuasi penduduk sipil ke tempat yg
aman!!” perintahku kepada beberapa orang anggota divisiku. “dahulukan penduduk
wanita dan anak-anak. Dan bagi yg pria, jika anda ingin ikut berperang,
segeralah persenjatai diri anda dengan senjata yg ada di sana!” perintahku
sambil menunjuk ke arah gudang senjata milik HAMAS.
“Divisi tempur darat, menyebar!!!!” perintahku
memulai strategi.
Pertempuran berjalan alot, tapi aku sangat yakin
dengan kekuatan divisi tempur yg aku miliki. Ya, kami memang telah melatih
fisik kami dengan giat.
“Letnan! Komando divisi utama telah terjun ke
area sentral, mereka menunggu perintah untuk segera melakukan penyerangan.”
lapor salah seorang anggota divisi utama padaku.
“Mohon untuk menahan sebentar. segera lakukan
serangan saat matahari mulai terbit!” tegasku.
###########
Suara letupan senjata mengiringi hari ini.
Lontaran bom menghujani langit Gaza laksana hujan asam yg menghancurkan
segalanya. Ceceran darah terlihat dimana-mana. Suara tangis menggema merasuk
hela-hela nafas. Namun tetap teriakan “ALLAHU AKBAR” berkumandang dengan megah
memotivasi pihak palestina untuk tetap bertahan, untuk tetap menyerang.
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Meski kobaran api begitu terasa menjalar di balik
perang ini, namun semangat pasukan Gaza tak akan pernah pudar. Karena mereka
tahu, Allah ada bersama mereka. Siasat dan strategi yg dibuat mampu membuat
pasukan zionis keteteran dan Israel sempat mundur sejenak.
Namun semua kembali memanas ketika sekutu Israel,
yaitu Amerika datang dengan bala pasukan kafirnya menyerbu barak militer
Palestina. Tak terhitung lagi dentingan peluru yg ditembakkan yg terdengar
memecah hening angkasa. Ya, ini merupakan pertarungan yg tak seimbang. Israel
mendominasi peperangan dengan jumlah personil militer dan kelengkapan peralatan
tempur mereka, namun ada satu hal yg masih dapat dibanggakan oleh pejuang Gaza,
mereka masih punya semangat. Biarpun harus mati, tapi tak akan pernah ada kata
menyerah. Itulah prinsip mereka. Yang mereka tahu, Allah akan selalu menyertai
setiap Jihad yg mereka tempuh.
“Umar!!!!!” seru sebuah suara mengagetkan
kegelisahanku akan perang ini.
“Arif, ada apa?” Tanyaku panik. Aku merasakan
adanya firasat buruk tentang sesuatu yg akan terjadi nanti.
“Camp pengungsian barak 4 telah diketahui oleh
musuh! Mereka kini tengah melancarkan serangannya kesana. Evakuasi penduduk
sipil dari sana telah dilakukan, namun sebagian warga sipil itu gagal kami
lindungi, mereka menjadi sasaran kebiadaban zionis.” jelas Arif.
“Astagfirullahal’adzim…betapa liciknya yahudi
itu! Segera kirimkan bantuan melalui pasukan militer bawah tanah untuk
mengantisipasi serangan yg lain ke masing-masing Camp. Bawa serta para medis ke
tempat tersebut.” perintahku mengantisipasi.
“Tapi, bagaimana dengan situasi perang saat ini?
Bukankah kita juga perlu menambah para medis dan personil militer untuk
membombardir blockade musuh?” Tanya Arif.
“Ya, kau benar. Tapi untuk saat ini nyawa warga
sipil terutama wanita dan anak-anaklah yg harus kita utamakan. Selain itu aku
sudah menyiasati sebuah strategi penyerangan khusus untuk melumpuhkan blockade
tersebut.” jawabku antusias.
“Hn, baiklah… jika itu yg kau perintahkan, aku
akan mempercayakannya padamu.” sahut Arif sambil berlari menjauhiku untuk
segera menjalankan instruksiku tadi.
################
“Lapor letnan!” lapor Iqbal
“Ya, silahkan” balasku
“Kondisi daerah tempur distrik 2 dan 6 telah
berhasil dikuasai Israel. Namun kita masih punya harapan karena nampaknya ada
sedikit celah di sentral barak utama musuh. Penjagaan di sana sedikit mengendur
walaupun beberapa missile laser dan bom granat detector telah terpasang
disekeliling markas mereka. Laporan selesai!” ujar Iqbal.
“Laporan diterima! Segera sampaikan perintah pada
pasukan militer divisi 21 yg berada di distrik 4 yg dekat dengan sentral Israel
untuk menjalankan strategi tempur khusus 09 dalam kondisi darurat siaga 3.”
perintahku.
“Perintah siap dijalankan!” ujarnya
Kutelusuri ruangan data hasil spionase yg kami
lakukan dulu terhadap bekas markas Israel, dari beberapa analisisku kutemukan
beberapa strategi tahap lanjutan. Aku hanya bisa berharap agar strategi ini
benar-benar berhasil.
Kulihat langit biru, oh tidak aku telah salah
melihat warna, karena langit kota Gaza yg sekarang berwarna Abu-abu pertanda
berkumpulnya asap bekas ledakan bom. Bukannya aku tak ingin untuk turun
langsung ke ranah peperangan ini, namun posisiku sebagai pemimpin komando
divisi tempur mengharuskanku untuk bertahan sambil menyampaikan
strategi-strategi yg harus dijalankan. Setelah menyimpulkan beberapa argument,
aku langsung mengirimkannya ke pusat militer palestina yg dikontrol oleh HAMAS
dan Al-Fatah. Setelah itu aku memutuskan untuk terjun langsung ke lapangan.
Aku bersiap. Beberapa amunisi, granat dan peluru
memperlengkap senjata SG (Shot Gun) S51 yg kuandalkan ini. Aku mulai merangsek
ke tempat musuh, dengan penuh kehati-hatian kumulai melakukan serangan dari
sudut yg tidak terduga. Beberapa prajurit Israel dan Amerika (sekutunya)
berhasil kulumpuhkan. Kini mereka mengetahui posisiku. Dengan secepat kilat
mereka langsung menghujamku dengan tembakan. Namun disinilah aku dapat
menunjukkan kebolehanku, kebolehan yg kudapat saat berlatih keras di markas
HAMAS semenjak aku kecil. Ya, kebolehanku yg satu ini adalah mampu menghindari
hujan tembakan senjata yg ditujukan padaku dengan sedikit aksi akrobatik
(salto).
Aku berhasil berpindah ke posisi yg aman. Namun
kulihat… seseorang yg kukenal tengah tergeletak dengan tubuh bersimbah darah.
“Musa!” panggilku.
“Letnan!” jawabnya sambil tersenyum saat menoleh
padaku.
“Tak usah panggil aku letnan, panggil aku Umar
saja. Apa yg terjadi padamu?” tanyaku. Aku merasa sangat heran dengan kondisi
yg dialami Musa saat ini, biasanya ia adalah prajurit yg mampu berperang
menerobos barikade musuh tanpa terluka sedikitpun.
“Haha, tak terjadi apa-apa kok. Tadi aku Cuma
terkena serangan senjata zionis biadab itu saat mencoba mengevakuasi seorang
nenek-nenek ke tempat yang aman.” bebernya.
“Subhanallah, begitu mulia hatimu. Tunggu disini
sebentar, aku akan segera mencarikan seorang paramedis untuk menyembuhkan
lukamu.” tuturku.
“Tidak usah, kau harus terus melanjutkan
strategimu. Kalau kau berhenti disini dengan alasan untuk
menyelamatkanku, strategimu akan gagal dan aku tak akan pernah
memaafkanmu karena itu.” cegahnya.
“Tapi, kau-“
“Tak ada tapi-tapian, aku mungkin sudah tak
tertolong lagi. Beberapa pembuluh darahku pecah dan pendarahan ini semakin
hebat. Organ-organ dalam tubuhku sepertinya juga tidak berfungsi lagi. Oleh
karena itu, aku hanya mau mengucapkan
terimakasih atas jasamu selama ini.” ujarnya.
“Tapi-“
“Sudah kubilang tak ada tapi-tapian. Biarkan aku
mencapai cita-citaku saat ini. Insya Allah aku mati syahid. Jangan kau cegah
keinginanku ini. Teruslah berjuang menegakkan Islam di bumi ini” cetusnya.
Tak
lama setelah berkata demikian, Musa lalu memasuki fase sakaratul mautnya. Dan
Alhamdulillah dia mampu berucap: “Lā ila ha ilallāh…
muhammadarrsūlullāh…”
di penghujung hidupnya. Aku tersenyum melihat ia meninggalkan dunia yg fana ini
dengan senyum ikhlas terpancar di wajahnya.
“Innalillahiwainnailaihiraji’un” ucapku sambil menutup kedua mata Musa.
################
Flash back
9 tahun yg lalu…
Kala redup senja perlahan menghilang, sang surya menampakkan kembali keperkasaannya. Shubuh yang mencekam jika diingat.
“Ummi,
Abi sudah pulang?” tanyaku pada Ummi yang baru selesai mengaji.
“Sepertinya belum.” Ucap Ummi.Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul 06.45 sudah 2 jam semenjak kepergian Abi menuju masjid Al Aqsha untuk menunaikan shalat shubuh berjama’ah.
“Mungkin Abi sedang ada keperluan.” Ucap Ummi mencoba menenangkan aku yang sudah sangat khawatir.
Meskipun demikian, rasa khawatirku tetap saja tidak kunjung sirna.
Tok.. tokk.. tokkk..
Pintu diketuk oleh seseorang…
Ummi segera pergi membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang. Tak lama kemudian Ummi kembali.
“Siapa yang datang Ummi? Abi-kah yang datang?” tanyaku penasaran.
“Bukan, yang datang ialah temannya Abi. Mereka mengatakan suatu kabar kepada kita mengenai Abi.” Jawab Ummi.
“Abi? Apa yang terjadi dengan Abi, Ummi?”
“Kau tahu Umar, Abi pernah mengatakan, kehidupan di dunia hanyalah sementara. Kehidupan yang kekal adalah di akhirat. Karena itu, kehidupan di dunia harus digunakan untuk melakukan banyak amal sholeh. Melakukan segala perintah Allah dan menjauhi laranganNya,” panjang lebar Ummi memberiku kuliah pendek tentang kehidupan, sama persis seperti yang pernah disampaikan Abi.
“Lalu apa maksudnya Ummi? Mengapa Ummi tidak menjawab pertanyaanku? Dimana Abi, Ummi?” tanyaku menggesa.
Ummi terdiam sejenak, dengan tertatih ia mencoba untuk sejenak menghela napas.
“Abi telah mencapai jalan menuju kehidupan yang kekal itu.” Ucap Ummi.
“Maksudnya?”
“Abi telah pergi menghadap Allah, anakku. Allah telah menghendaki ia untuk meninggalkan kita ketika Abi tengah shalat sunnah fajar. Insya Allah Abi meninggalkan kita dalam keadaan khusnul khatimah.” Jelas Ummi dengan suara sedikit berat.
“Abi…” ucapku lirih. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Mata ini tak kuasa untuk membendung kesedihan yang terasa amat menyakitkan. Air mataku berontak keluar, menangisi kepergian sosok Ayah tercinta. Sosok yang selama ini selalu menjadi teladanku dalam bertindak dan bersikap.
“Umar, kemarilah nak.” Panggil Ummi.
Ummi lalu memeluk erat tubuh kecilku.
“Tak ada yang perlu kau tangisi nak. Anak dari seorang mujahid tidak boleh cengeng.” Ucap Ummi sambil membelaiku. “Abi telah kembali kepada Allah sebagai seorang mujahid.” lanjut Ummi. Seperti biasa, tak ada tangis di mata Ummi. Sekuat tenaga kutahan tangis, karena seharusnya aku bahagia karena surga telah rindu menanti kedatangan pejuang-pejuang Allah. Biarlah Allah yang membalas kebiadaban zionis itu dengan balasan yang setimpal.
Tak lama berselang, lebih kurang 1 tahun setelah Abi meninggal, Ummi menyusul beliau menghadap kepada Allah. Meski perasaan sedih berkecamuk dalam hati dan pikiranku, tapi nasihat-nasihat dari Ummi untuk tidak bersedih membuatku mencoba untuk tegar.
“Ketahuilah anakku, siapapun yang bernyawa pasti akan mati. Dan kau tidak perlu takut akan datangnya kematian. Yang perlu kau lakukan ialah terus menimba amalan baikmu sehingga nanti di akhirat kita bisa bertemu dengan Abi di surga.” Begitulah salah satu dari sekian banyaknya nasihat yang Ummi sampaikan padaku semasa beliau masih hidup.
Tak apalah dalam kehidupan dunia, keluarga kami tercerai-berai. Karena itu, kulepas kepergian Ummi dengan lapang dada. Tak ada tangis sedikitpun dari mataku. Aku hanya berharap, Allah akan mempertemukan keluarga kami kelak di surgaNya.
End of Flash back
Dengan segenap keberanian yang membara didalam dada. Satu tujuan, memporak-porandakan markas militer utama Israel dengan segenap kemampuan yang kubisa. Aku meliuk-liuk masuk menyelinap dari tempat ke tempat lainnya.
Selongsong peluru ditembakkan…
“Umar!” Seru Arif seraya meloncat kearahku untuk menghindarkanku dari kemungkinan tertembak peluru senapan zionis tadi.
Iqbal
yang sedari tadi berjuang bersama Arif lalu dengan cekatan berhasil memberangus
sang zionis yang tadi melakukan tembakan tersebut dengan sekali hentakan
senjata.
“Kalian
baik-baik saja?” Tanya Iqbal kepada kami berdua.
“Tentu.
Terima kasih Iqbal. Jazakallahu khair.” Ucapku menjawab pertanyaan salah
seorang sobatku tersebut.
“Berhati-hatilah
ini merupakan area jalan tempur utama Israel menuju Camp rakyat Gaza. Aku akan
menanam ranjau di sekitar wilayah ini.” Ujar Iqbal seraya menanam ranjau. Saat
ia mengulurkan kabel ranjau tersebut tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel
memergoki kami. Sebuah bom lalu secara serta merta dijatuhkan kearah kami.
Syukurlah
kami dapat menghindari ledakan bom tersebut. Namun, kabel
pengubung ranjau dan pemicu yang tadi
hendak disambung oleh Iqbal menjadi
terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih
berputar-putar di atas.
Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi
di mana ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah
berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.
Apalah daya yang dapat kami lakukan. Kabel
ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul
persis di atas ranjau.
Rencana untuk meledakkan serdadu Israel dengan ranjau tersebut gagal. Terdapat
guratan kesedihan dan kekecewaan di wajah Iqbal.
“Ya Allah,
sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka,
jadikanlah mereka juga tidak
memiliki kesempatan serupa.”
Doaku.
“Sebaiknya
kita segera meninggalkan tempat ini, jumlah kita yang hanya bertiga tidak akan
cukup untuk melawan kumpulan serdadu yang jumlahnya tak terhitung itu.” Saran
Arif.
“Ya,
mungkin sebaiknya begitu.” Ujar Iqbal.
Kami
lalu meninggalkan tempat tersebut. Dan sungguh ajaib, tak lama setelah kami
meningggalkan wilayah tersebut, terdengarlah suara ledakan yang sangat keras
menggelegar dengan dahsyatnya. Terdengar teriakan meronta dari para zionis yang
terkena ledakan tersebut. Kami yang penasaran dengan apa yang telah terjadi
kemudian mencoba untuk kembali mendekati lokasi ledakan tersebut.
Terlihat
mayat-mayat serdadu Israel tersebut bergelimpangan di daerah tersebut dengan
beberapa jilatan api kecil yang masih menyala di sekitar wilayah tersebut.
“Subhanallah!”
ucap Iqbal.
“Ada
apa Iqbal?” Tanyaku dan Arif bersamaan.
“Lihat
ini!” serunya pada kami.
Sungguh
ajaib, ternyata ranjau yang ditanam oleh Iqbal di wilayah tersebut masih utuh.
Padahal besar kemungkinan ranjau yang belum terpicu tersebutlah yang
menyebabkan ledakan dahsyat tadi. Lalu dari mana datangnya ledakan
tersebut? Wallahu a'lam.
##############
“Aku
harus melanjutkan misiku menuju markas utama zionis.” Ujarku pada kedua
sahabatku.
“Bagaimana
dengan tugasmu sebagai pimpinan divisi tempur darat? Misi itu terlalu
berbahaya, Umar!” ucap Arif.
“Aku
telah mengirimkan seluruh strategi tempur yang telah kupikirkan pusat militer palestina yg dikontrol oleh
HAMAS dan Al-Fatah. Aku harus melakukannya walau ini berbahaya. Inilah waktu
yang tepat untuk melakukan serangan balik menuju markas utama Israel tersebut
selagi mereka lengah menyerbu Camp militer kita. Jika hal itu dapat kulakukan
maka tentunya itu akan menjadi sebuah pukulan telak bagi mereka.” Terangku.
“Kalau
begitu izinkanlah kami ikut serta denganmu menjalani misi ini.” Pinta Iqbal.
“Baiklah
kalau itu keinginan kalian. Ayo kita berjuang!” seruku.
#############
Serpihan-serpihan peluru dan juga potongan-potongan tubuh manusia menjadi teman perjalanan kami kali ini. Rutukan senantiasa menggema di dalam hati ini melihat apa yang telah terjadi.
“Ya Allah, tempatkanlah para mujahid ke tempat terbaik di sisi-Mu.” Doa kami.
Hati yang penuh kebencian terhadap zionis Israel dan Amerika sebagai sekutunya. Perang melawan iblis berwujud manusia memang tak bisa lagi dihindari.
“Kakak!” teriak Arif saat melihat tubuh seorang wanita berjilbab sutra warna hitam terbujur kaku.
“Astagfirullahal’adzim Kak Hanifah!” ujarku saat mengenali sosok jenazah yang tergeletak di tanah tersebut.
Kulihat Arif menangis terisak-isak melihat jenazah kakak kandungnya tersebut. Siapa saja tentu akan teriris hatinya saat mengetahui kakak kandung sendiri tewas dengan keadaan mengenaskan tersebut. Dilihatnya lekat-lekat sosok wanita yang selalu membimbingnya semenjak kematian ibunya saat ia masih kecil dulu. Dibetulkannya posisi jilbab sang kakak yang sedikit menjadi tidak rapi bentuknya sehingga menampakkan beberapa helaian rambut. Rambut yang selama hidupnya tidak pernah ditunjukkan sang kakak kecuali kepada muhrimnya.
“Sabar ya, Rif.” Ujarku mencoba menguatkan hati teman masa kecilku itu.
“Umar.” tanggapnya.
“Kau tentunya akan sering melihat kematian orang yang kau sayangi di negeri perang tak berkesudahan ini. Kau harus bersiap untuk hal tersebut. Namun kau harus tahu, kau tidak boleh menyia-nyiakan perjuangan mereka. Jika kau jatuh karena hal semacam ini maka akan lebih banyak kematian orang yang kau sayangi yang akan kau lihat. Kuatkanlah hatimu sobat, jadikanlah kematian kak Hanifah menjadi kehidupan rakyat Gaza dengan tekad api dan usahamu.” Tutur Iqbal.
“Ya, benar kata Iqbal. Ingatlah Rif, Allah akan selalu bersama kita. Maka janganlah kau bersedih. Perjuangan kita untuk membebaskan negeri ini dari perang melawan iblis zionis masih belum usai.” Tambahku.
Kuharap Arif dapat untuk tetap tenang, meski kondisi psikisnya memang sedikit terganggu oleh kematian kak Hanifah terlebih lagi seminggu yang lalu ia juga harus menerima kabar pahit wafatnya adiknya yang bernama Ibrahim.
“Terima kasih, teman-teman.” Ujar Arif seraya menghapuskan genangan air mata yang menumpuk di kelopak matanya sembari memberikan sebuah senyuman yang memang terlihat jelas dipaksakan.
Kami memulai perjalanan kembali.
“Sudah pukul 22.00, ini waktu yang tepat. Diperkirakan kita akan mencapai lokasi target 2 jam lagi. Tentunya ini kabar yang baik karena pada pukul tersebut biasanya para zionis suda banyak yang tertidur dan pengawalan di sekitar markas tersebut juga cukup lengang.” Jelasku.
###########
Kami melewati masjid kebanggan kaum muslim khususnya rakyat Palestina, Masjid Al-Aqsha. Di masjid ini kami menyempatkan diri sejenak untuk Shalat memohon lindungan Allah. Masjid Al-Aqsha sudah terlihat mengenaskan. Beberapa pilar masjid roboh dan dinding-dindingnya pun tidak banyak yang tersisa. Sungguh biadab ulah zionis yang selalu berusaha membumi hanguskan masjid ini.
Selepas menunaikan Shalat terdengarlah teriakan wanita menggema dari arah luar. Kami segera menuju ke arah sumber suara tersebut.
“Iblis! Kalian benar-benar iblis!” teriak seorang gadis kecil berusia sekitar 10 tahun kepada 2 orang serdadu zionis di hadapannya.
“Sungguh kejam kalian merenggut nyawa Abi!” teriaknya lagi. Terlihat dibelakang gadis bertubuh mungil tersebut sesosok mayat pria yang sepertinya merupakan ayah dari gadis tersebut.
“Gadis bodoh yang berisik!” bentak salah seorang serdadu militer zionis tersebut kepada sang gadis cilik.
“Ikutilah kematian ayahmu saat ini juga! Matilah kau!” ujar yg lain dengan posisi tangan memidik siap untuk melepaskan timah panas dari senapan riffle miliknya.
Ctash…
Pelatuk senapan digerakkan, sebuah peluru dengan cepat keluar terarah pada si gadis yang merengek tersebut. Tapi,…
“Iqbal!” teriakku dan Arif.
“Pergilah menjauh gadis kecil! Ini bukan tempatmu, jalan hidupmu masih panjang. Temukanlah olehmu kenikmatan dunia namun janganlah kau terlena olehnya. Jadikanlah dunia ini sebagai ladang amal untuk kehidupanmu di akhirat. Jangan sia-siakan kematian ayahmu, berdo’alah untuk keselamatannya di alam kubur dan di akhirat.” Ujar Iqbal kepada si gadis kecil.
“Lā ila ha ilallāh… muhammadarrsūlullāh…”
Rupanya Iqbal mengorbankan tubuhnya yang menjadi santapan timah panas tersebut semata-mata demi melindungi gadis cilik yang bahkan tidak ia kenali. Sungguh mulia hati Iqbal.
Kami tak membuang waktu, dengan cepat 2 orang zionis tersebut kami robohkan. Namun sayang, nyawa Iqbal tak dapat diselamatkan.
“Iqbal telah kembali kepada Allah sebagai pejuang.” Ucap Arif.
Kembali kami harus kehilangan nyawa dari orang-orang yang kami sayangi. Memang, di negeri nestapa ini nyawa seseorang dapat lenyap secepat mata memandang. Kapankah negeri ini bebas dari belenggu Israel?
###########
Letih kaki ini berjalan di atas medan penuh debu, penuh nanah, penuh darah.
Tiba-tiba di pekatnya kegelapan malam aku dan Arif melihat seekor melati terbang dengan suara yang melengking. Ada firasat tak enak bersemayam di pikiranku melihat kejadian tersebut.
“Kita harus segera meninggalkan tempat ini dan mencari tempat berlindung. Firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu dengan tempat ini.” Kataku pada Arif.
Tak lama saat kami telah menemukan tempat berlindung, dugaanku langsung terbukti benar karena selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujani tempat tadi.
“Alhamdulillah, Allah telah menyelamatkan kita dari serangan zionis biadab itu.” Ujar Arif.
#########
Tiba saatnya kami sampai di gerbang markas utama militer Israel. Namun tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel berjenis Doberman. Anjing bertubuh besar tegap ini tampaknya memang disiapkan khusus untuk menyelidiki orang-orang yang akan masuk ke dalam markas utama militer zionis.
Dengan raut wajah dan air muka yang tidak bersahabat, anjing tersebut datang dengan cepat menghampiri kami, aku tak tahu apa yang harus kami lakukan untuk menghadapi anjing militer penjaga ini.
“Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami akan mencoba untuk memberantas iblis zionis yang kau lindungi itu. Karena itu, menjauhlah dari kami dan janganlah menimbulkan masalah bagi kami.” Ujar Arif.
Tampaknya anjing tersebut mengerti dengan apa yang dikatakan Arif, buktinya anjing tersebut langsung duduk diam dengan kedua tangan menjulur ke depan.
Arif kemudian membuka kantung bekal yang tadi ia tenteng dan mengeluarkan beberapa butir korma yang ia bawa dari rumah. Kemudian korma tersebut ia berikan kepada anjing Doberman itu. Dengan tenang anjing tersebut makan buah korma itu, lalu anjing tersebut beranjak pergi.
“Bagaimana caramu melakukan hal itu sobat?” tanyaku penasaran.
“Sesungguhnya Allah telah memberikan ilham kepadaku untuk melakukan hal tersebut. Setiap makhluk meskipun ia adalah seekor anjing yang hina tetap saja ia mengetahui siapa Rabb-nya. Dan sesungguhnya barangsiapa yang bertindak pada jalan Allah maka Allah akan memudahkan urusannya.” Jelas Arif.
Dengan bantuan keahlian spionase yang dimiliki oleh Arif, kami berhasil menemukan sebuah jalan rahasia yang tampaknya cukup aman untuk dilewati karena tidak terlihat adanya penjagaan serdadu militer zionis di area tersebut. Kami mencoba untuk merangsek masuk melalui jalan tersebut. Kami berhasil menembus penjagaan utama hingga sampai ke dalam markas militer utama Israel tersebut.
Suasana sepi senyap menyambut kami, seperti tidak ada kehidupan di dalam markas tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku pun terus bertanya-tanya.
Dan ternyata…
Kami dijebak! Puluhan serdadu militer zionis ternyata sudah mengintai kami sejak tadi, kami tergiring masuk ke ruangan yang hampir tak bercelah ini. Oh, bodohnya aku hingga tak menyadari keanehan yang terjadi! Seharusnya aku tahu kalau kami akan dijebak seperti ini. Sial!
Kuraih Shot Gun-ku, dengan beberapa tembakan aku harus bisa menjatuhkan mereka semua.
“Jihad#99!” teriakku pada Arif.
Arif bertindak cepat memahami instruksiku. Jihad#99 dikombinasikan sebagai strategi menyerang musuh secara membabi buta. Dan satu keuntungan yang dapat diambil adalah Arif membawa senjata api jenis Machine Gun yang mampu menembak sasaran secara bertubi-tubi. Dengan tangkas, seluruh musuh di ruangan ini dapat di lenyapkan.
“Kerja bagus, Rif! Anggota batalyon utama pertahanan Gaza memang hebat!” pujiku.
“Terimakasih, letnan!” sahutnya.
Tanpa banyak membuang waktu lagi kami mencoba untuk menuju ruangan pusat control militer. Dan seperti halnya saat tadi, beberapa serdadu militer bersenjata lengkap juga harus kami tumpas terlebih dahulu. Dengan sedikit trik akrobat dikombinasikan dengan skil menembakku kami berhasil menghentikan perlawanan mereka.
#########
“Selamat datang di markas utama kami, tikus tengik!” sebuah suara mengagetkan kami.
“Kau,-!” teriakku.
“Ya, ini aku. Panglima militer Israel, David Lincoln.” Ucap David. “Sudah cukup kalian mengganggu ketenangan markasku ini. Bersiaplah untuk mati, bocah!” lanjutnya.
“Kami tidak akan menyerah padamu, iblis!” gusar Arif.
“Hahaha, kalian tidak perlu menyerah karena beberapa jam lagi kalian akan menyaksikan sendiri baik secara langsung ataupun tidak langsung kehancuran total tanah kelahiran kalian. Hahaha” tawa iblisnya membahana.
“Bajingan!” umpatku.
“Tangkap mereka hidup-hidup! Aku ingin mereka menyaksikan sendiri kehancuran negeri mereka 6 jam lagi. Hahaha.” Perintah David pada serdadu militernya.
Aku dan Arif tak berdaya melawan ratusan personil militer mereka ditambah lagi kami kekurangan amunisi senjata yang telah habis saat pertempuran di awal tadi. Kami ditangkap dan diikat dengan tali.
Kami terus berusaha melepaskan diri dari ikatan tapi hasilnya tetap nihil. Hal itu membuatku patah arang? Tentu saja tidak. Aku yakin Allah akan menolong kami.
Aku berusaha melepaskan diri dari ikatan tali ini dengan mencabiknya menggunakan gigitanku. Meski sudah empat jam berlalu, tapi ikatan tersebut masih saja belum lepas. Dengan mulut penuh darah aku terus menggigit dan akhirnya berhasil memutuskan tali yang sangat tebal ini. Alhamdulillah.
Aku segera melepaskan ikatan tali di tubuhku dan juga pada Arif.
#########
Kami mencoba untuk kabur.
“Apa yang akan mereka lakukan untuk meluluh-lantakkan Gaza?” Tanya Arif padaku.
“Berdasarkan data yang tadi kubaca di komputer mereka disebutkan bahwa mereka akan menggunakan roket tempur dengan kekuatan penghancur super yang ada di gudang senjata mereka. Ini sangat berbahaya.” Jawabku.
“Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Arif kemudian.
“Entahlah, aku juga masih bingung. Yang penting kita harus menggagalkan rencana mereka.” Ujarku.
“Kalian berhasil kabur, heh?” suara iblis itu kembali terdengar.
Kami menoleh, tidak salah lagi suara itu berasal dari seorang David Lincoln.
“Umar, pergilah! Lakukan sesuatu untuk menyelamatkan rakyat Gaza! Aku akan mencoba menghentikan mereka!” seru Arif.
“Tapi,-“
“Jangan membantah! Lakukan apa yang kubilang! Kumohon!” serunya lagi.
“Baiklah.” Ujarku memahami.
“Mau kabur, heh?” sahut David.
“Diam kau David iblis! Akulah yang akan jadi lawanmu!” teriak Arif.
“Ya, terserahlah.” Ucap David.
David melawan Arif.
Aku berlari melangkah pergi sambil memikirkan apa yang harus kuperbuat.
“ALLAHU AKBAR!” teriak Arif.
Namun Arif memang bukanlah lawan yang seimbang bagi David. Dengan mudah David dapat mengalahkan Arif.
##########
Aku berlari dan terus berlari.
Ya, tempat itu! Aku berllari menuju tempat itu. Satu-satunya tempat yang bisa mengakhiri rencana keji zionis itu.
Gudang senjata…
Di gudang senjata inilah zionis menyimpan seluruh senjata dan amunisi mereka, termasuk roket itu. Dengan segenap tenaga aku berlari secepat yang kubisa.
Sesampainya disana aku mengambil sebuah Machine Gun caliber 344 dan mulai menembaki roket tersebut. Tapi hasilnya nihil.
Kuingat
bahwa gudang ini terletak tepat di tengah-tengah markas utama militer Israel
ini. Sebuah ide gila muncul di pikiranku.
Aku
mulai menembaki beberapa tangki penyimpanan minyak di gudang tersebut dan juga
menembaki bungkusan-bungkusan bubuk mesiu.
Aku
mengambil beberapa buah granat dan segera mengaktifkannya. Kuarahkan granat tersebut
ke arah bubuk mesiu dan tangki minyak tadi. Ya, aku akan meledakkannya. Tak
peduli jikalau aku juga akan terkena ledakan dahsyat yang tentunya bisa
melenyapkanku juga.
“ALLAHU
AKBAR!!!” teriakku sambil melempar granat.
“Ya
Allah jika ini memang akhir bagiku maka tolonglah kabulkan permohonanku,
hancurkanlah markas militer zionis ini.” Doaku.
Aku
yakin Panglima Ismail akan berhasil memukul mundur Israel jika markas militer
utama zionis ini berhasil kuhancurkan meski harus berkorban nyawa. Setidaknya
kuberharap aka nada setitik asa dan harapan untuk rakyat Gaza supaya bisa
terbebas dari kebiadaban zionis Israel.
Aku
akan melewati fase terakhir kehidupanku sebagai manusia di dunia yang fana ini.
Aku akan mewujudkan cita-citaku untuk mati sebagai mujahid. Mati sebagaimana
kematian Abi, Musa, Iqbal, Arif dan para syuhada lainnya. Mati dengan segurat
senyum di wajah. Senyum penuh kemenangan yang akan menghantarkanku ke gerbang
akhirat. Dan tentunya semoga saja aku bisa masuk surga bersama syuhada yg lainnya.
Senyum kebahagiaan untuk bertemu kepada Allah azza wa jalla.
“Lā ila ha ilallāh… muhammadarrasūlullāh…”Markas utama militer Israel hancur bersama para penghuni di dalamnya dan juga menghancurkan roket biadab itu. Menghancurkan rencana iblis zionis.
Alhamdulillah…







0 comments:
Post a Comment