This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, January 18, 2014

Dosa Besar

Menghindari Perilaku Tercela
A. Pengertian Dosa
Dosa adalah perbuatan yang melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya atau perbuatan yang melanggar ketentuan Al-Quran dan Sunnah Rasul. Secara psikologoi dosa adalah sesuatu yang terasa salah da;am hati apabila kita mengerjakannya dan tidak senang atau takut jika ada orang lain yang mengetahuinya.
Secara psikologi, dosa adalah suatu yang terasa salah dalam hati apabila kita mengerjakannya dan kita takut jika ada orang lain yang mengetahuinuya.

B. Macam-macam Dosa
Dosa terbagi menjadi beberapa macam menurut sumber, sasaran, dan beratnya pelanggaran.
a. Menurut Sumbernya
Menurut sumbernya, dosa terbagi menjadi dosa dalam hati, dosa lisan, dan dalam perbuatan.
- Dosa dalam hati
Contoh dosa dalam hati adalah syirik, hasad (dengki), iri, bakhil, takabur, ujub, dan suuzan.
- Dosa Lisan
Contoh dosa lisan adalah sumpah palsu, berdusta, memfitnah, mengadu domba, membual, mencaci maki, mengejek dan menghina.

- Dosa Perbuatan
Contoh dosa perbuatan adalah mencuri, berzina, membunuh, mendurhakai orang tua, berbuat zalim, menyakiti fisik orang lain.
b. Menurut sasaranya
Menurut sasaranya, dosa terbagi menjadi dosa terhadapdiri sendiri, terhadap orang lain dan dosa terhadap Allah.
- Dosa terhadap diri sendiri
Contoh dosa terhadap diri sendiri adalah bakhil, takabur, ujub, dan bunuh diri.
- Dosa terhadap Orang lain
Contoh dosa terhadap orang lain adalah membunuh, mencuri, menzalimi, menyakiti orang lain,memfitnah, mengadu domba, dan mendurhakai orang tua.
- Dosa terhadap Allah.
Contoh dosa terhadap Allah adalah syirik, tidak mengerjakan sholat lima waktu, dan tidak berpuasa.

c. Menurut Berat pelanggaranya.
Menurut beratnya pelanggaran, dosa terbagi menjadi dosa kecil dan dosa besar.
- Dosa Kecil
Dosa kecil adalah pelanggaran hokum atas perbuatan yang tidak dirinci bahwa pelanggaran tersebut adalah perbuatan dosa besar. Contoh : Melihat sesuatu yang dilarang dan berbohong. Menurut sebagian ulama, dosa kecil yang dilakukan terus menerus dapat dinilai sama dengan dosa besar.
- Dosa Besar
Dosa besar adalah pelanggaran hukum atas perbuatan yang telah ditentukan, seperti musyrik, mendurhakai orang tua, bersaksi palsu, bunuh diri, membunuh orang lain, mencuri, merampok dan berzina.




C. Beberapa Perbuatan Dosa Besar
Islam Melarang umatnya berbuat dosa karena perbuatan dosa akan menjadi penyakit masyarakat. Penyakit masyarakat adalah segala macam perbuatan manusia yang tidak disenangi masyarakat dan akan mendatangkan kerugian bagi pelaku, korban, dan masyarakat, pada umumnya.
Perbuatan dosa yang menjadi penyakit masyarakat tersebut mencakup sifat-sifat tercela dalam berbagai macam bentuknya. Dalam bahasan ini akan dikemukakan bebarapa sifat tercela, yaitu mencuri dan merampok, membunuh perbuatan asusuila, dan pelanggaran hak asasi manusia.

a. Mencuri dan Merampok
Mencuri adalah mengambil hak milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah dan biasanyaa dilakukan dengan cara diam-diam atau senbunyi-sembunyi. Merampok adalah mengambil harta orang lain dengan cara memaksa atau dengan kekerasan. Dengan kata lain, merampok adalah merampas harta orang lain dengan kekrasan, ancaman senjata, dan terkadang disertai pembunuhan.
Mencuri dan merampok merupakan perbuatan yang berdampak buruk serta merugikan, baik bagi pelaku maupun korbannya. Dampak buruk mencuri dan merampok bagi pelakunya adalah sebagai berikut.

1. Mengalami keegelisahan Batin
Pelaku peencurian dan perampokan tidak akan pernah hidup tenang karena selalu dikejar-kejar rasa bersalah rasa khawatir perbuatannya akan terbongkar.
2. Mnedapat Hukuman
Jika tertangkap, seoraang pencuri dan perampokakan mendapat hukuman sesuai undang-undang yang berlaku. Tidak jarang pencuri dan perampok tewas dihakimi masa.
3. Nama Baiknya tercemar
Seseorang yang telah diketahui sebagai pencuri dan perampok, nama baiknya akan tercemar, masyarakat di sekelilingnya akan membencinya.
4. Merusak Keimanan
Seseorang yang mencuri atau merampok berarti telah merusak imannya. Jika ia mati sebelum bertobat, Ia akan mendapat azab yang pedih.

Adapun dampak buruk mencuri dan merampok bagi korban dan masyarakat sekitar adalah:
a. Menimbulkan kerugian dan kekecewaan
b. Menimbulkan ketakutan
c. Munculnya hokum rimba

b. Membunuh
Membunuh adalah melakukan perbuatan yang mengakibatkan matinya seseorang. Dilakukan dengan sengaja maupun tidak, baik dengan alat yang mematikan maupun tidak.
Peristiwa membunuh pada zaman sekarang menandakan bahwa manusia saat ini telah kembali ke zaman jahiliah. Allah Swt berfirman

     
Artinya : …. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi
(Q.S. Al-A’raf/7 179)

Dampak membunuh bagi pelakunya adalah sebagai berikut.
a. Mengalami kegelisahan batin karena selalu dikejar-kejar rasa bersalah
b. Mendapat hukuman yang sesuai dengan undang-undang
c. Nama baiknya tercemar dari semua masyarakat dan keluarganya
d. Merusak keimanan dan akan diazab yang pedih di akhirat

Dampak buruk pembunuhan bagi korban dan masyarakat sekitar adalah :
a. Hilangnya Hak hidup di dunia bagi korban yang dibunuh
b. Menimbulkan kesedihan yang ditinggal si korban dan ketakutan atas keselamatannya.
c. Menimbulkan rasa Dendam dengan si pelaku
d. Hilang stabilitas keamanan.

Allah Swt juga melarang manusia untuk melakukan bunuh diri, misaknya mati dengan cara menggantung, terjun ke jurang, meloncat dari gedung dan meminum obat serangga. Bunuh diri termasuk perbuartan tercela dan dosa besa berdasarkan firman Allah SWT.

                    •     

Artinya : …. Dan jangan lah kamu membunuh dirimu. Sunggauh Allah Maha Penyayang kepadamu/
(Q.S. An-Nisa’/4:29)

Orang yang mati bunuh diri tidak perlu disalatkan. Sebagaimana firman Allah.
Telah didatangkan kepada Nabi Muhammad saw. Seorang laki-laki yang membunuh dirinya dengan anak panah, maka tidak disalatkan oleh beliau mayat tersebut.


c. Perbuatan Asusila
Perbuatan Asusila adalah perbuatan yang melanggar norma social dan Agama. Dalam pengertian umum, perbuatan asusila adalah penyimpangan dalam perilaku seksual.
1. Zina atau Heteroseksual
Zina adalah hubungan seks antara laki-laki dan perempuan diluar pernikahan yang sah. Secara psikolog dan seksolog pezina dan pelacur. Pelacur adlah meraka yang melakukan hubungan seks untuk mendapatkan uang, sedangkan pezina mereka yang melakukan hubungan seks atas dasar suka sma suka untuk memuaskan nafsu.
Dalam islam, apapun namanya, hubungan seks diluar pernikahan disebut zina. Zina adalah perbuatan keji dan dosa besar sebagaimana firman allah swt:

         
Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina itu sungguh suatu pebuatan keji dan suatu jalan yang buruk.
(Q.S. al-isra’/17:32)

2. Homoseks dan Lesbian
Homoseks adalah peemuasan nafsu seks antar sesama pria, sedangkan lesbian adalah pemuasan nafsu seks antar sesama wanita. Dalam istikah ilmu fiqih disebut liwat. Perbuatan ini pernah dilakukan oleh kaum luth. Di indonesia pada tahun 1992 telah muncul kelompok guy pada tahun 1992 Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara (KKLGN)

3. Free Sex
Free sex yang juga disebut seks bebas adalah model hubungan seksual diluar pernikahan yang bebas tanpa ikantan apapun dean hanya dilandasi rasa suka sama suka. Orang yang menganut paham free sex mereka berhubungan sex dengan siapapun yang mereka sukai tanpa pandang bulu, bahkan keluarga sendiri.

4. Samanleven
Perbuatan ini sering pula disebut kumpul kebo. Samenleven adalah hidup bersama atau berkelompok tanpa sedikitpun niat untuk melaksanakan pernikahan. Dasar pijakan mereka apdalah kepuasan seksual.

5. Matubrasi
Matubrasi berasal dari kata latin, yaitu masturbation, berarti tangan menodai atau sama juga derngan onani. Matubrasi adalah pemuasan seksual pada diri sendiri dengan menggunakan tangan. Kebiasaan matubrasi mengakibatkan kelelahan fisik karena banyak menyerap energy.

6. Voyeurisme
Adalah usaha untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat aurat orang lain yang sedang terbuka atau tidak sengaja terbuksa. Contoh kebiasaan mengintip orang mandi atau melihat film-film porno.

7. Fetisme
Perilaku menyimpang yang merasa telah mendapat kepuasan seksual hanya denfan memegang , memiliki, atau melihat benda-benda atau pakaian yang sering dipakai wanita seperti BH, atau celana dalam.

8. Sodomi
Adalah hubungan seks lewat dubur untuk mendapatkan kepuasan. Perbuatan ini dilakukan terhadap pria maupun wanita dan umumnya terhadap mereka yang dapat dikuasai pelaku secara psikologis.



9. Perkosaan
Memaksa orang lain untuk melakukan hubungan seks. Ini dapat terjadi pada orang yang dikenal atau tidak.

10. Aborsi
Pengguran kandungan atau pembuangan janin. Atau juga penghentian kehamilan atau matinya janin sebelum waktu kehamilan. Biasanya ini dilakukan wanita hamil akibat free sex.

11. Pelecehan seksual
Penghinaan terhadap nilai seksual seseorang yang ada dalam tubuhnya. Hal itu dapat berupa ucapan, tulisan, tindakan yang dinilai menganggu atau merendahkan mertabat kewanitaan, seperti mencolek, meraba, mencium mendekap.

12. Pacaran
Dalam arti luas pacaran berarti mengenal karakter seseorang yang dicintai dengan cara mengadakan tatap muka. Pacaran pada zaman sekarang adalah usaha untuk pelampiasan nafsu seksual (hubungan intim) yang tertunda.

d. Pelangaran Hak Asasi Manusia
Sejak awal islam telah memasukan HAM dalam ajaran-ajaranya. Islam telah menyodorkan langkah-langkah preventif yang actual dalm usaha mencegah pelanggaran HAM. Seorang Ulama Dr syekh syaukat Hussain menjelaskan hubungan islam dengan Hak Asasi Manusia dalam bukunya berjudul ‘Human Rights in Islam” buku tersebut berisi penjelasan :
1. Hak hidup
Hak yang pertama kali diberikan islam adalah hak untuk hidup danmenghargai hidup manusia. Hal itu dijelaskan dalam ayat berikut ini ;

  •                      
Artinya : dan jangan lah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan suatau alas an yang benar.
(Q.S. al-Isra’/17:33)

2. Hak milik
Agama islam memberikan jaminan keamanan terhadap pemilik harata benda. Hal ini berlaku bagi harta bendqa yang diperoleh dengan jalan halal menurut islam. Hak milik mencangkup hak untuk menikmati, mengkonsumsi, berinvestasi, mentransfer, serta menempati suatu tanah. Firman Allah SWT:

Artinya dan jangan lah kamu makan harta diantara kamu dengan jalan yang batil
(Q.S. al-baqarah/2:188)

3. Hak perlindungan
Hak lain yang diberikan Iskam kepada manusia adalah perlindungan kehormatan. Kaum muslim dilarang untuk menjatuhkan kehormatan orang lain dengan cara apapun. Tidak ada diskriminasi sikaya dan simiskin.

4. Keamana dan kesucian kehidupan pribadi
Islam mengakui adanya hak keleluassaan hidup pribadi setiap orang. Islam pun melarang orang lain ikut campur hingga melanggar batas kewajaran kehidupan seseorang.

5. Keamanan dan kemerdekaan Pribadi
Agama Islam menegaskan bahwa tidak ada seseorang pun yang dapat dipenjarakan. Kecuali dia telah din yatakan bersalah oleh pengadilan . Hak atas pribadi ini berlaku terhadap semua orang. Firman Allah SWT:

6. Persamaan Hak dalam Hukum
Islam menekankan persamaan seluruh umat manusia dimata Allah swt. Dia telah menciptakan manusia dari asla yang sama. Kemuliaan manusia tidak dinilai dari asal usul nya melainkan amal kebajikannya.

7. Kebebasan Berekspresi
Agama Islam memberikan hak kebebasan beerpikir dan mengemukakan pendapat kepada seluruh manusia. Kebebasan berfikir dan mengemukakan pendapat ini harus dimanfaatkan untuk tujuan mnesyiarkan kebajikan, bukan untuk menyebarkan kezaliman.

8. Kebebasan Hati Nurani dan Keyakinan
Islam memberikan hak kebebasan hati nurani dan keyakinan kepada seluruh umat manusia. Firmasn Allah SWT :

      ••                     
Artinya : tidak Ada paksaan dalam (menganut) agama (islam)
(Q.S. al-baqarah/2:256)

suber :http://teghitsugaya.blogspot.com

Tuesday, January 14, 2014

Hukum Qisas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Qisas (bahasa arab: قصاص) adalah istilah dalam hukum islam yang berarti pembalasan, mirip dengan istilah "hutang nyawa dibayar nyawa". Dalam kasus pembunuhan hukum qisas memberikan hak kepada keluarga korban untuk meminta hukuman mati kepada pembunuh. [1]
Dasarnya adalah: "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu qishash atas orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Barangsiapa mendapat ma'af dari saudaranya, hendaklah yang mema'afkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik." [Al Baqarah:178]
"Dan Kami tetapkan atas mereka di dalamnya (Taurat) bahwa jiwa dibalas dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka pun ada Qisasnya. Barangsiapa yang melepaskan hak Qisas, maka melepaskan hak itu jadi penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang zalim." [Al Maa-idah:45]
Meski demikian dikatakan Al Qur'an bila hak Qisas dilepaskan oleh korban maka itu menjadi penebus dosa bagi mereka. Keluarga korban dapat memaafkan pembunuh dan meminta penebus dalam bentuk materi.
Qisas dipraktekkan di negara-negara yang menganut syariat Islam seperti Arab Saudi.

Referensi

  1. Al Qur'an Al-Maidah ayat 45 5:45
005.045
YUSUFALI: We ordained therein for them: "Life for life, eye for eye, nose or nose, ear for ear, tooth for tooth, and wounds equal for equal." But if any one remits the retaliation by way of charity, it is an act of atonement for himself. And if any fail to judge by (the light of) what Allah hath revealed, they are (No better than) wrong-doers.

PICKTHAL:
And We prescribed for them therein: The life for the life, and the eye for the eye, and the nose for the nose, and the ear for the ear, and the tooth for the tooth, and for wounds retaliation. But whoso forgoeth it (in the way of charity) it shall be expiation for him. Whoso judgeth not by that which Allah hath revealed: such are wrong-doers.

SHAKIR:
And We prescribed to them in it that life is for life, and eye for eye, and nose for nose, and ear for ear, and tooth for tooth, and (that there is) reprisal in wounds; but he who foregoes it, it shall be an expiation for him; and whoever did not judge by what Allah revealed, those are they that are the unjust.

Pembunuhan Sengaja Dan Hukumannya

Di dalam sistem uqubat Islam, terdapat empat jenis (kategori) hukuman iaitu jinayat/qisas, hudud, ta’zir dan mukhalafat. Untuk setiap kesalahan, terdapat hukumannya yang tersendiri yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya. Jika mencuri termasuk di dalam kategori hudud, pembunuhan adalah termasuk di bawah kategori jinayat. Pembunuhan di dalam Islam terdiri dari empat bentuk iaitu pembunuhan sengaja, seumpama sengaja, tidak sengaja dan tersalah. Sebagaimana telah disebut di atas dan di dalam ruang yang serba terbatas ini, kami hanya akan memfokuskan perbincangan berkenaan pembunuhan yang dilakukan secara sengaja sahaja.

Hukum bagi pembunuhan yang disengajakan adalah bunuh balas (qisas) iaitu membunuh si pembunuh, jika wali orang yang dibunuh tidak menuntut diyat atau memaafkan si pembunuh. Dalilnya adalah dari firman Allah, “Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas di dalam membunuh” [TMQ al-Isra’ (17):33]. FirmanNya yang lain, “Diwajibkan atas kamu qisas berkenaan orang-orang yang dibunuh” [TMQ al-Baqarah (2):179]. Qisas di dalam ayat ini membawa maksud membunuh si pembunuhnya. Ayat ini dirincikan lagi oleh Rasulullah dengan baginda menjelaskan melalui sabdanya bahawa selain qisas, wali bagi pihak yang terbunuh boleh memilih samada
meminta diyat yang berupa 100 ekor unta ataupun memberikan kemaafan kepada si pembunuh. Imam Abu Daud meriwayatkan dari Abu Syuraih al-Khaza’i, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa tertumpah darahnya atau disakiti, maka ia boleh memilih salah satu dari tiga pilihan, boleh mengqisas atau mengambil tebusan (diyat) atau memaafkan...”. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Amru bin Syua’ib dari bapanya, dari datuknya bahawa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh dengan sengaja, maka keputusannya diserahkan kepada waliwali pihak yang terbunuh. Mereka berhak membunuh atau mengambil diyat yakni 30 unta dewasa, 30 unta muda dan 40 unta yang sedang bunting, atau mereka juga berhak memaafkannya”

Terdapat banyak lagi hadis yang senada dengan hadis di atas yang menjadi dalil yang sangat jelas bahawa hukuman bagi pembunuhan yang disengajakan adalah qisas, atau pihak wali meminta diyat atau memaafkan. Hukuman yang terdapat di dalam Islam ini jelas berbeza dengan hukuman yang ada sekarang dilihat dari sudut
mana sekalipun.

Pertama: Mengikut undang-undang sekarang, pihak yang melakukan tuntutan (pendakwaan) adalah kerajaan (pendakwaraya), bukannya ahli waris mangsa;

Kedua: Wali kepada pihak yang terbunuh langsung tidak diberi pilihan memilih hukuman, walhal di dalam Islam, wali mempunyai tiga pilihan.

Ketiga: Hukuman sekarang yang diperuntukkan di bawah seksyen 302 Kanun Keseksaan adalah berasal dari undang-undang yang dibuat dan diluluskan oleh manusia di Parlimen, manakala hukum qisas dalam Islam berasal dari Allah dan Rasul di dalam Al-Quran dan Hadis.

Keempat: Hukuman sekarang dijalankan oleh manusia atas kehendak manusia sendiri berdasarkan keputusan majoriti manusia, sedangkan hukum qisas dijalankan oleh manusia atas kehendak Allah yang menjadi kewajipan bagi manusia berdasarkan aqidah.

Kelima: Hukuman Allah apabila dilaksanakan ke atas manusia akan menjadi pencegah (zawajir) dan penebus dosa (jawabir) di akhirat, sedangkan hukuman sekarang tidak akan membawa apa-apa erti, malah akan membawa dosa ke atas pelaksananya kerana jelas-jelas mereka tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan. Inilah di antara sebahagian dari perbezaannya. 

Membunuh Orang Kafir

Adapun hukuman terhadap seseorang yang membunuh orang kafir, maka dalam kes ini harus dibezakan antara kafir harbi, kafir dzimmi, kafir mua’hid dan kafir musta’min [Syeikh Abdurrahman al-Maliki, Nidzamul Uqubat Fil Islam]:-

(1) Kafir Harbi ialah orang kafir yang tidak diberi jaminan keamanan mahupun hak-hak umum dari Negara Islam serta tidak ada jaminan khusus untuknya.  Kafir harbi terdiri dari 2 jenis iaitu kafir harbi fi’lan dan kafir harbi hukman. Harbi fi’lan adalah orang kafir yang sedang memusuhi Negara Islam secara langsung dan sedang memerangi umat Islam manakala kafir harbi hukman pula adalah orang kafir yang tidak ada apa-apa perjanjian dengan Negara Islam dan tidak juga mereka ini berada di dalam kedudukan perang dengan umat Islam. Bagi kafir harbi fi’lan, tidak ada perbezaan pendapat di kalangan ulama bahawa darah mereka adalah halal. Seorang Muslim bukan sahaja tidak akan dikenakan apa-apa hukuman jika membunuh mereka, malah hukumnya wajib ke atas kaum Muslimin untuk memerangi mereka di mana sahaja mereka berada. Jika dahulu mereka ini adalah golongan kafir Quraish yang kedudukan mereka sentiasa memerangi Daulah Islam Madinah, sekarang ini kedudukan mereka sama seperti tentera-tentera Amerika atau Israel atau British yang sedang memerangi kaum Muslimin. Mana-mana negara kufur boleh bertukar status menjadi harbi fi’lan apabila mereka mengisytiharkan perang ke atas umat Islam.

Adapun kafir harbi hukman, seorang Muslim (serta golongan kafir dzimmi dan mu’ahid) tidak akan dibunuh jika membunuh harbi hukman. Ia hanya dikenakan diyat yang jumlahnya adalah separuh dari diyat pembunuhan ke atas Muslim. Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib dari bapanya dari datuknya, bahawa Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Seorang kafir (harbi hukman) separuh diyatnya seorang Muslim”. Ini adalah kerana kita tidak mengumumkan perang ke atas mereka dan di antara kita dengan mereka juga tidak terjadi peperangan secara langsung. Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali RadhiAllahu ‘anhu bahawa Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Perhatikan, seorang Mukmin tidak dibunuh kerana membunuh seorang kafir (hukman), demikian pula kafir yang memiliki perjanjian”. Makna dari hadis ini adalah seorang Muslim itu tidak dibunuh jika dia membunuh
seorang kafir harbi hukman. Begitu juga keadaannya bagi seorang kafir yang memiliki perjanjian (yakni kafir dzimmi dan kafir mua’hid), mereka juga tidak akan dibunuh jika ia membunuh kafir harbi hukman.  Bagaimanapun, wajib ke atas mereka membayar diyat yang jumlahnya separuh dari diyat seorang Muslim.

(2) Kafir mua’hid adalah orang kafir (termasuk sebuah negara) yang mempunyai perjanjian keamanan dengan Daulah Islam. Kafir dzimmi juga termasuk kafir yang mempunyai perjanjian dengan Daulah Islam. Bezanya dengan kafir mua’hid adalah adalah mereka ini (dzimmi) menetap (bertempat tinggal) di dalam Daulah dan tunduk kepada pemerintahan Islam. Mereka membayar jizyah sebagai balasan perlindungan dari Daulah Islam ke atas mereka. Mereka ini adalah warganegara Daulah dan segala undang-undang Islam terpakai ke atas mereka kecuali dalam beberapa perkara yang dikecualikan syara’. Hak mereka adalah sama sebagaimana hak kaum Muslimin warganegara Daulah yang lainnya serta harta, darah dan kehormatan mereka adalah terjaga. Darah mereka haram ke atas kaum Muslimin seperti haramnya darah seorang Muslim.  Imam Bukhari meriwatkan dari Abdullah bin Amri dari Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Barangsiapa yang membunuh kafir mua’hid, maka ia tidak akan mencium
bau syurga, padahal bau syurga boleh tercium dari jarak 40 tahun perjalanan.”. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Perhatikan, barangsiapa membunuh kafir mua’hid, maka ia mendapat celaan Allah dan RasulNya. Sungguh aku berlindung dari celaan Allah dan ia tidak akan mencium bau syurga, padahal bau syurga boleh tercium dari jarak 40 tahun perjalanan.”

Hadis-hadis di atas menunjukkan keharaman membunuh kafir mua’hid dan dzimmi dan Rasulullah memberi ancaman yang keras ke atas pembunuhan yang dilakukan ke atas golongan tersebut. Imam Baihaqi mengeluarkan hadis dari Abdurrahman al-Bilmani, “Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam telah membunuh seorang Muslim yang membunuh kafir mua’hid. Kemudian beliau bersabda, ‘Aku telah memuliakan darah orang yang memohon perlindungan”.

(3) Kafir musta’min adalah kafir yang diberi kemanan oleh Daulah Islam untuk masuk ke dalam Daulah.  Mereka bukan warganegara Daulah, tetapi hanya pendapat keizinan untuk masuk dan menetap dalam jangka masa yang dibenarkan oleh Negara. Dalam keadaan sekarang, mereka ini adalah orang kafir yang diberi visa untuk masuk ke dalam Daulah. Dalam situasi ini, darah dan harta mereka adalah terjaga dan undangundang dalam Daulah Islam adalah terpakai ke atas mereka. Selama mana mereka berada di dalam negara, maka mereka mendapat keamanan sebagaimana halnya dengan kafir dzimmi. Dengan jaminan keamanan ini maka terpeliharalah jiwa, harta dan kehormatannya.  Kaum Muslimin haram untuk mencederakannya atau membunuhnya kerana mereka telahpun mendapat hak keamanan dan penjagaan dari Daulah. Ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian hantarlah ia ke tempat yang aman baginya” [TMQ
at-Taubah (9):6]. 

Jika seorang Muslim membunuhnya, maka Muslim tersebut akan dibunuh, sebagaimana jika mereka membunuh kafir dzimmi juga. Ini diperkuat dengan kenyataan bahawa seorang Muslim yang membunuh kafir yang memiliki perjanjian kerana tersalah (tidak sengaja), maka hukumnya sama dengan ia membunuh seorang Muslim. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendakah si pembunuh) membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin.” [TMQ an-Nisa’ (4):92]. Ayat ini adalah berkenaan hukum membunuh kafir mua’hid secara tidak sengaja di mana hukumannya adalah sama sebagaimana hukuman membunuh seorang Muslim secara tersalah.  Mafhumnya, ini menunjukkan bahawa bagi pembunuhan terhadap kafir mua’hid dengan sengaja, maka hukumannya juga adalah sama sebagaimana hukuman membunuh seorang Muslim dengan sengaja. 

Wahai kaum Muslimin! Demikianlah kedudukan hukum Islam ke atas orang-orang kafir jika mereka dibunuh di dalam sebuah Daulah Islam. Ramai dari kalangan umat Islam yang terkeliru atau dikelirukan dengan kefahaman bahawa undang-undang Islam hanyalah untuk orangorang Islam sahaja dan tidak terkena ke atas orangorang kafir. Kefahaman ini jelas-jelas menyimpang dari kebenaran. Berdasarkan ayat-ayat Quran dan Hadis yang begitu banyak menyentuh persoalan hukuman ke atas orang Islam dan orang kafir (termasuk perbincangan di atas), ternyata bahawa hukum Allah itu adalah wajib dilaksanakan ke atas semua manusia, tidak kira Muslim ataupun kafir. Undang-undang Islam adalah undang-undang Negara, bukannya undangundang yang bersifat peribadi ke atas individu Muslim sahaja. Dengan kata lain, jika di dalam sebuah Negara Islam ada kes mencuri, maka si pencuri wajib dipotong tangannya tidak kira samada ia seorang Muslim mahupun kafir. Begitu juga dengan kes rogol, zina, rompak, bunuh dan sebagainya. Semua yang terlibat di dalam melanggar hukum Allah (yang merupakan hukum Negara), maka kesemuanya tertakluk kepada hukuman yang sama tanpa mengira lagi samada dia Muslim atau kafir.

Sejak sekian lama kefahaman kita telah diputar belitkan oleh penjajah kafir. Mereka menjajah kita dan menerapkan undang-undang mereka ke atas kita. Di peringkat awal, mereka menerapkan undang-undang mereka secara paksa, sesuai dengan realiti mereka sebagai bangsa yang menjajah. Sepanjang penjajahan, mereka tidak henti-henti berusaha merubah pemikiran kita agar berfikir dengan cara mereka. Mereka menguasai dan mengawal sistem pendidikan kita, mereka benarkan kita mengamalkan Islam tetapi sebatas yang diizikan mereka sahaja seperti dalam hal-hal ibadat, harta pusaka, perkahwinan dan seumpamanya. Mereka adalah golongan yang telah ‘membuang’ agama dan memisahkannya dari kehidupan (sekular) dan mereka mengimplementasi sistem mereka ini ke atas kita. Walaupun pada peringkat awalnya semua ini diterapkan ke atas kita secara paksa, tetapi kemudiannya, ia telah diterima secara sukarela oleh umat Islam, khususnya mereka yang memegang kekuasaan. Lama-kelamaan, mereka mula belajar membuat undang-undang mengikut cara mereka dengan mengenepikan hukum agama. Mereka meletakkan kuasa membuat undangundang di tangan manusia dan menetapkan bahawa
undang-undang ini ‘wajib’ diluluskan apabila majoriti manusia sudah bersetuju. Dari sini, maka lenyaplah sudah peranan agama dalam kehidupan.  Jika kita merujuk kembali kepada kes Altantuya, dia pada peringkat awalnya dikatakan sebagai seorang Muslim di mana berita-berita menyebutkan bahawa namanya adalah Altantuya @ Aminah binti Abdullah, tetapi peliknya, tidak ada pengesahan dari Pihak Berkuasa Agama akan statusnya. Malah cebisan mayatnya dikutip oleh ahli keluarganya yang beragama Buddha dan ‘disemadikan’ mengikut ritual agama
Buddha [lihat UM 18/11/06]. Pihak Jabatan Agama Islam nampaknya seolah-olah tidak berminat untuk campurtangan, tidak sebagaimana kes Moorthi dahulu yang mana mereka berusaha bersungguh-sungguh untuk menguruskan pengebumian mayat Moorthi mengikut cara Islam. Di dalam kes ini, sesungguhnya kewajipan adalah terletak di bahu mereka yang memegang kekuasaan untuk menentukan status agama si mati dan mereka wajib menguruskannya secara Islam jika si mati adalah Muslim. Setelah ditentukan status agamanya (atau jenis afirnya), maka barulah boleh ditentukan hukuman Allah ke atas pembunuhnya. Jika tidak ada bukti yang  menunjukkan seorang itu adalah Muslim, maka hal ini akan dikembalikan kepada hukum asal yakni dengan melihat kepada agama asal si mati tersebut.

Pembunuhan Berkumpulan

Tidak diragukan lagi bahawa sekelompok orang wajib dibunuh kerana membunuh orang lain, kerana hadis yang berbicara tentang hukuman bagi pembunuh mencakup baik dilakukan oleh seorang individu mahupun sekelompok orang. Lafaz hadis ‘Barangsiapa yang terbunuh...’ adalah mencakup kes seseorang atau sekelompok orang yang membunuh orang lain. Saidina Umar al-Khattab pernah bertanya kepada Saidina Ali tentang pembunuhan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap seseorang. Ali kemudian bertanya kepada Umar, “Apa pendapatmu seandainya ada sekelompok orang mencuri barang, apakah engkau memotong tangan mereka? Umar menjawab, ‘ya’. Kata Ali, ‘Demikian juga dengan pembunuhan”. Dari sini kita dapat memahami bahawa jika sekelompok orang
bersekutu, baik dua orang atau lebih untuk membunuh seseorang, maka semuanya akan dikenakan hukuman yang sama. Semuanya wajib dibunuh meskipun yang terbunuh adalah seorang individu. 

Yang dimaksud bersekutu di dalam pembunuhan di sini bergantung kepada penglibatannya dalam pembunuhan tersebut. Jika seseorang terlibat di dalam pemukulan terhadap pihak yang terbunuh, maka ia tergolong sebagai orang yang terlibat dalam pembunuhan secara pasti. Adapun jika seseorang tidak terlibat dalam pemukulan, maka hal ini perlu diperhalusi. Jika kedudukannya adalah sebagai orang yang memudahkan terjadinya pembunuhan seperti menahan/mengepung pihak yang hendak dibunuh, lalu orang yang dikepung tadi dibunuh oleh pelaku  pembunuhan atau menyerahkan pihak yang terbunuh kepada pelaku pembunuhan, maka orang tersebut tidak dianggap sebagai pihak yang bersekutu di dalam pembunuhan, akan tetapi disebut sebagai pihak yang membantu pembunuhan. Ini termasuklah pemandu kereta, penjaga pintu dan seumpamanya. Orang semacam ini tidak dibunuh, akan tetapi hanya dipenjara sahaja. Imam Daruquthni mengeluarkan hadis dari Ibnu Umar dari Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Jika seseorang lelaki menghentikan seorang lelaki yang lain, kemudian lelaki tersebut dibunuh oleh lelaki yang lain, maka orang yang membunuh tadi mesti dibunuh, sedangkan lelaki yang menghentikannya dipenjara.”  Hadis ini merupakan penjelasan bahawa orang yang membantu dan menolong si pembunuh tidak dibunuh, akan tetapi hanya dipenjara. Namun demikian, ia boleh dipenjara dalam waktu yang sangat lama, bergantung kepada ketetapan qadhi. Bahkan Ali ibn Abi Thalib berpendapat agar orang tersebut dipenjara sampai mati.  Diriwayatkan dari Imam Syafi’i dari Ali ibn Abi Thalib bahawa beliau, RadhiAllahu ‘anhu, telah menetapkan hukuman bagi seseorang lelaki yang melakukan pembunuhan dan orang yang menghentikannya (menahan pihak yang terbunuh) di mana Ali berkata,”Pembunuhnya dibunuh manakala yang lainnya dipenjara hingga mati.” 

Dengan demikian, semua orang yang tidak bersekutu dalam pembunuhan hukumnya dipenjara, bukan dibunuh. Sedangkan orang yang bersekutu dalam pembunuhan maka ia mesti dibunuh, apapun penglibatannya. Oleh kerana itu, orang yang bersekutu secara langsung yakni bersekutu sebagai pihak yang menyebabkan terjadinya pembunuhan, dan  sebagai pihak yang mengatur (mengarahkan) pembunuhan semuanya dianggap sebagai pihak yang bersekutu dalam pembunuhan. Ini adalah kerana mereka semua terlibat di dalam pembunuhan secara langsung. Tidak ada bezanya apakah bersekutu dalam pemukulan atau perencanaan (perancangan) pembunuhan tersebut, semuanya termasuk di dalam aktiviti membunuh. Ini bererti semua orang yang perbuatannya dianggap bersekutu dalam pembunuhan, hukumnya wajib dibunuh, sama seperti ‘pembunuh langsung’. Akan tetapi orang yang mempermudah pembunuhan tidak dianggap sebagai pihak yang bersekutu, baik secara langsung mahupun tidak langsung. Dalil untuk semua ini adalah berdasarkan hadis Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Khatimah

Wahai kaum Muslimin! Membunuh jiwa tanpa hak adalah satu perbuatan yang jelas-jelas haram di dalam Islam. Hanya Allah sahajalah, selaku Pencipta manusia yang berhak menentukan siapakah yang boleh dibunuh dan siapakah yang tidak boleh. Dalam hal ini, Allah Azza wa Jalla memberi khabar ancam kepada manusia melalui firmanNya, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” [TMQ an-Nisa’ (4):93].  Allah sebagai Zat yang mencipta ruh dan memasukkannya ke dalam tubuh manusia, Dialah satusatunya yang berhak menentukan bilakah ruh itu wajib dikembalikan kepadaNya. Ingatlah wahai kaum Muslimin bahawa membunuh dengan tanpa hak itu berdosa dan balasannya adalah neraka Jahannam dan kekal di dalamnya. Ingatlah bahawa melaksanakan qisas ke atas pembunuh itu adalah wajib dan
meninggalkannya adalah haram. Ingatlah bahawa berhukum dengan selain dari apa yang diturunkan Allah itu adalah haram dan berdosa. Ingatlah bahawa berdiam diri tanpa berusaha untuk menerapkan hukum Allah juga satu keharaman dan dosa. Jika pemerintah berdosa kerana tidak menerapkan hukum Allah, maka umat Islam pula akan berdosa apabila tidak merubah keadaan ini. Justeru, bersatulah wahai kaum Muslimin untuk kita sama-sama bergerak menegakkan agama Allah ini agar azab Allah tidak menimpa kita dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

Monday, January 13, 2014

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html