Wednesday, October 2, 2013
Home »
»
ASAL USUL API DALAM LITERATUR
ISLAM
Ketika Nabi Adam As. diturunkan ke
bumi, beliau tidak lagi memperoleh
makanan secara mudah seperti di
surga. Beliau harus bekerja keras
untuk memperoleh buah-buahan
atau daging untuk dimakan.
Ketika beliau memperoleh
binatang buruan dan
menyembelihnya, ternyata tidak
bisa langsung dimakan begitu saja
karena masih mentah dan tentunya
tidak enak. Karena itu beliau berdoa
kepada Allah agar diturunkan api
untuk memasak. Maka Allah Swt.
mengutus Malaikat Jibril meminta
sedikit api kepada Malaikat Malik di
neraka untuk keperluan Nabi Adam
tersebut.
Malaikat Malik berkata: “Wahai Jibril,
berapa banyak engkau
menginginkan api?”
Malaikat Jibril berkata: “Aku
menginginkan api neraka itu
seukuran buah kurma.”
Malaikat Malik berkata: “Jika aku
memberikan api neraka itu
seukuran buah kurma, maka tujuh
langit dan seluruh bumi akan
hancur meleleh karena panasnya!”
Malaikat Jibril berkata: “Kalau
begitu berikan saja kepadaku
separuh buah kurma saja.”
Malaikat Malik berkata lagi: “Jika aku
memberikan seperti apa yang
engkau inginkan, maka langit tidak
akan menurunkan air hujan setetes
pun, dan semua air di bumi akan
mengering sehingga tidak ada
satupun tumbuhan yang hidup!”
Malaikat Jibril jadi kebingungan,
sebanyak apa api neraka yang aman
untuk kehidupan di bumi? Karena
itu ia berdoa: “Ya Allah, sebanyak
apa api neraka yang harus aku ambil
untuk kebutuhan Adam di bumi?”
Allah Swt. berfirman: “Ambilkan api
dari neraka sebesar zarrah (satuan
terkecil, atom).”
Maka Malaikat Jibril meminta api
neraka kepada Malaikat Malik
sebesar zarrah dan membawanya
ke bumi. Tetapi setibanya di bumi,
Jibril merasakan api yang sebesar
zarrah itu masih terlalu panas, maka
beliau mencelupkan
(membasuhnya) sebanyak tujuh
puluh kali ke dalam tujuh puluh
sungai yang berbeda. Baru setelah
itu beliau membawanya kepada
Nabi Adam dan meletakkannya di
atas gunung yang tinggi.
Tetapi begitu api tersebut
diletakkan, gunung tersebut hancur
berantakan. Tanah, batuan, besi dan
semua saja yang ada di sekitar api
itu menjadi bara yang sangat panas,
dan mengeluarkan asap. Bahkan api
yang sebesar zarrah itu terus masuk
menembus bumi, dan hal itu
membuat Malaikat Jibril khawatir.
Karena itu ia segera mengambil api
tersebut dan membawanya kembali
ke neraka.
Bara terbakar yang ditinggalkan
itulah yang sampai sekarang ini
menjadi sumber api dunia,
termasuk yang menjadi magma-
magma di semua gunung berapi di
bumi ini. Tidak bisa dibayangkan
bagaimana panasnya api neraka
tersebut. Kalau bara api dunia itu
umumnya berwarna merah, maka
bara api neraka itu berwarna hitam
kelam, seperti hitamnya gelap
malam.
Nabi Saw. pernah menanyakan
tentang keadaan api neraka itu,
maka Malaikat Jibril berkata:
“Sesungguhnya Allah Swt.
menciptakan neraka, lalu
menyalakan api neraka itu selama
seribu tahun sehingga (baranya)
berwarna merah. Kemudian (Allah)
menyalakannya (menambah
panasnya) selama seribu tahun lagi
sehingga (baranya) berwarna putih,
dan (Dia) menyalakannya
(menambah panasnya) selama
seribu tahun lagi sehingga
(baranya) berwarna hitam. Maka
neraka itu hitam kelam seperti
hitamnya malam yang sangat gelap
pekat, tidak pernah tenang kobaran
apinya dan tidak pernah padam
(berkurang) bara apinya.”
Sumber : Disadur dari Kisah al-Habib
Ubaidillah bin Idrus al-Habsyi
Surabaya (Alumnus Ribath Darul
Musthafa Yaman)
Sampaikanlah kepada orang lain,
maka ini akan menjadi Shadaqah
Jariyah pada setiap orang yang Anda
kirimkan pesan ini. Dan apabila
kemudian dia mengamalkannya,
maka kamu juga akan ikut
mendapat pahalanya sampai hari
kiamat...
Ada 2 pilihan untuk Anda:
1. Biarkan di dalam BBM, catatan
atau pikiran Anda tanpa bermanfaat
untuk orang lain.
2. Anda sebarkan pada semua
kenalan anda. Rasulullah SAW
bersabda, "Barangsiapa yang
menyampaikan 1 (satu) ilmu saja
dan ada orang yang mengamalkan,
maka walaupun yang
menyampaikan sudah tiada
(meninggal dunia), dia akan tetap
memperoleh pahala.






0 comments:
Post a Comment